Ini nih yang bikin gw eneg juga: cowok-cowok yang sebenernya instingnya emang buat ngelindungin dan ngejaga—diri sendiri, keluarga, orang-orang di sekitarnya—tapi udah kebablasan rusak jadi ego semata. Instingnya ilang esensinya, ganti jadi kebanggaan atas seberapa luas wilayah kekuasaan yang mereka punya, seberapa banyak sistem penjagaan yang ngelilingin hidup mereka, dan seberapa numpuk harta yang mereka kumpulin.
Awalnya, niatnya emang buat "ngamanin" diri dan keluarga, tapi ujung-ujungnya malah bergeser total jadi soal seberapa kuat ego mereka ngerasa menang—makin banyak harta, makin banyak sistem, makin luas area kekuasaan yang mereka taklukkan, terus makin gede juga rasa bangganya.
"Gw kerja, gw cari duit, gw penuhin kebutuhan ini-itu buat keluarga."
Dan ini yang paling ironis: alasan itu keliatan mulia di permukaan. Tapi kalo diliat lebih jujur, itu sering kali bukan soal beneran mikirin ketenangan dan kedekatan sama keluarganya, melainkan soal ego mereka sendiri yang butuh terus-terusan dikasih makan—ego sebagai "provider," sebagai orang yang dianggep udah "berhasil," sebagai yang paling bisa nyediain paling banyak.
Jadi, yang sebenernya terjadi itu insting protektif yang harusnya ngejaga kehidupan dan KETENANGAN DIRINYA SENDIRI + orang-orang di sekitarnya, malah dibelokin jadi ajang pembuktian diri sendiri—siapa yang paling berhasil, paling kuat, paling gak kekurangan. Padahal esensi "menjaga" itu sendiri, yang harusnya soal kehadiran dan keamanan emosional buat dirinya sendiri dan juga orang-orang yang mereka sayang, malah kosong—ketutup sama kebutuhan buat terus ngasih makan ego yang gak pernah kenyang itu.